GPA DKI Jakarta: Stop Framing Negatif terhadap Zulhas, Justru Berani Bongkar Potensi Pemborosan Anggaran Negara

TRIBUN PAJAJARAN

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:47 WIB

5017 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Provinsi DKI Jakarta menilai berbagai upaya menggiring opini publik yang mengaitkan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dengan polemik yang terjadi di lingkungan Badan Gizi Nasional merupakan narasi yang menyesatkan dan tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat.

Ketua PW GPA DKI Jakarta, Dedi Siregar, menegaskan bahwa tuduhan maupun desakan agar Zulkifli Hasan diperiksa dalam kaitannya dengan persoalan yang berkembang di Badan Gizi Nasional merupakan langkah yang keliru dan tidak tepat sasaran. Menurutnya, publik harus mampu membedakan antara pihak yang diduga melakukan penyimpangan dengan pihak yang justru berupaya mengungkap potensi permasalahan agar tidak merugikan negara.

“Kami menilai adanya upaya framing negatif terhadap Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan merupakan bentuk penggiringan opini yang tidak objektif. Jangan sampai masyarakat disuguhi informasi yang seolah-olah menyudutkan seseorang yang justru sedang menjalankan fungsi pengawasan dan keterbukaan informasi kepada publik,” ujar Dedi Siregar dalam keterangannya di Jakarta.

Menurut Dedi Siregar, sikap Zulkifli Hasan yang menyampaikan berbagai informasi terkait perkembangan program pangan dan gizi nasional kepada masyarakat justru patut diapresiasi sebagai bentuk transparansi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam negara demokrasi, keterbukaan informasi merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel.

PW GPA DKI Jakarta menilai bahwa keberanian Zulkifli Hasan mengungkap adanya lonjakan jumlah operasional dapur dalam program yang menjadi perhatian publik harus dipandang sebagai langkah positif untuk mencegah potensi pemborosan anggaran negara. Informasi yang disampaikan kepada publik terkait peningkatan jumlah titik operasional dari rencana awal sekitar 21.000 titik menjadi 27.877 titik merupakan fakta yang layak menjadi perhatian bersama guna memastikan penggunaan anggaran negara berjalan efektif, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Dedi menjelaskan bahwa dari sudut pandang pengawasan anggaran, informasi mengenai adanya potensi pembengkakan biaya operasional hingga mencapai angka yang sangat besar justru menunjukkan adanya kepedulian terhadap pengelolaan keuangan negara. Karena itu, sangat tidak tepat apabila informasi yang disampaikan dalam rangka keterbukaan dan pengawasan kemudian dipelintir menjadi tuduhan yang mengarah pada upaya kriminalisasi maupun pembentukan opini negatif terhadap seorang pejabat negara.

“Kami melihat apa yang dilakukan Pak Zulhas justru merupakan bentuk keberanian moral dan tanggung jawab sebagai pejabat publik. Ketika ada potensi pemborosan anggaran yang nilainya sangat besar, tentu masyarakat berhak mengetahui. Transparansi seperti ini seharusnya didukung, bukan malah dijadikan dasar untuk menyerang atau membangun narasi negatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, GPA DKI Jakarta mengingatkan agar berbagai pihak tidak terburu-buru membuat kesimpulan tanpa didukung fakta dan proses hukum yang jelas. Menurut mereka, setiap dugaan penyimpangan harus ditangani oleh lembaga yang berwenang berdasarkan data, bukti, serta mekanisme yang berlaku, bukan berdasarkan asumsi maupun tekanan opini publik yang dibangun secara sepihak.

Dedi menilai bahwa desakan pemeriksaan terhadap Zulkifli Hasan dalam konteks polemik tersebut merupakan langkah yang tidak tepat sasaran atau “salah kamar”. Sebab, hingga saat ini tidak terdapat dasar yang menunjukkan bahwa Menko Pangan terlibat dalam dugaan penyimpangan yang menjadi sorotan. Sebaliknya, yang terlihat justru adanya upaya penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi masalah yang perlu mendapat perhatian bersama.

PW GPA DKI Jakarta juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan pengamat kebijakan publik untuk tetap mengedepankan prinsip objektivitas dalam menyikapi berbagai isu nasional. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, namun kritik harus dibangun di atas fakta dan data yang valid, bukan melalui framing, asumsi, ataupun tuduhan yang belum terbukti.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menghentikan narasi yang bersifat tendensius dan berpotensi menyesatkan masyarakat. Fokus utama kita seharusnya adalah memastikan program-program pemerintah berjalan dengan baik, anggaran negara digunakan secara bertanggung jawab, dan setiap potensi penyimpangan dapat dicegah sejak dini,” ujar Dedi.

Sebagai organisasi kepemudaan, PW GPA DKI Jakarta menyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Menurut mereka, siapa pun pejabat yang berani menyampaikan fakta demi mencegah kerugian negara harus diberikan ruang dan dukungan, bukan justru menjadi sasaran serangan opini yang tidak berdasar.

Di akhir pernyataannya, Dedi Siregar menegaskan bahwa masyarakat harus lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Ia berharap ruang publik tidak dipenuhi oleh narasi yang bersifat provokatif dan menyesatkan, melainkan menjadi wadah diskusi yang sehat demi mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan serta pengawasan anggaran yang lebih baik untuk kepentingan bangsa dan negara.

“Jangan sampai pejabat yang berani membuka informasi kepada publik justru menjadi sasaran framing negatif. Yang perlu didorong adalah pengungkapan fakta secara terang-benderang dan pengawasan yang objektif demi menjaga uang rakyat serta memastikan seluruh program pemerintah berjalan sesuai tujuan,” tutup Dedi Siregar. (RED)

Berita Terkait

Publik Apresiasi Kapolres Cimahi dan Jajaran, Ungkap 506 Ribu Obat Keras dalam 10 Hari
Menuju Wartawan Berkualitas Nasional, SWI dan UMJ Hadirkan Kolaborasi yang
FPII Kecam Keras Pelabelan “Londo Ireng, Kasihhati : Itu Serangan Terbuka Terhadap Martabat Insan Pers Indonesia
Masih Adakah Pers Nasionalis? Ini Jawaban AKPERSI untuk Presiden
SWI Melangkah Lebih Maju: Profesionalisme, Integritas, dan Green Impact Menjadi Arah Baru
Fahd El Fouz Arafiq: Siapa Pun yang Serang Ketum Bahlil Akan Berhadapan dengan saya dan Ormas Golkar!
Bela Ketum Bahlil, Fahd El Fouz Arafiq Tegaskan Ormas Golkar Siaga Satu Hadapi Serangan Politik
Rencana Presiden Prabowo Naikkan Gaji TNI, Langkah Tepat Perkuat Pertahanan Negara

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:15 WIB

Kolaborasi, Kompetensi, dan Konsolidasi: Langkah Strategis SWI Membangun Pers Berkualitas

Rabu, 26 Agustus 2026 - 01:57 WIB

Sanggahan Belum Final, Berita Sudah Terbit! Tim Suryadi Pertanyakan Transparansi P2K Lae Ikan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 01:51 WIB

Netralitas Dipertaruhkan! Pengawas Akui Pelanggaran Sekdes Lae Mbersih, Sanksi Belum Diputuskan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 00:58 WIB

UMKM Tak Perlu Takut Pajak, PAST Bandung Hadirkan Edukasi dan Pendampingan yang Mencerahkan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:10 WIB

Pemprov Jabar Kawal Pelaksanaan Program 3 Juta Rumah Agar Sejahterakan Rakya

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Upacara Rutin MI Abdul Malik Tanamkan Jiwa Patriotisme Sejak Dini

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Menuju Wartawan Berkualitas Nasional, SWI dan UMJ Hadirkan Kolaborasi yang

Rabu, 29 Juli 2026 - 00:07 WIB

Kompak dan Solid, Kapolres Simalungun Bersama Kajari Dukung Komitmen Penanganan Perkara Pidana Tanpa Transaksional

Berita Terbaru